FGD UB dan Kominfo Jatim Matangkan Program S3 Ilmu Komunikasi


Kepala Dinas Kominfo Jatim, Sherlita Ratna Dewi Agustin, S.Si., M.IP.

Kepala Dinas Kominfo Jatim, Sherlita Ratna Dewi Agustin, S.Si., M.IP.

Kominfo Jatim - Untuk berbagi proses pendirian Program Studi Doktor (S3) Ilmu Komunikasi di Departemen Ilmu Komunikasi Universitas Brawijaya (UB), sekaligus memperkuat landasan akademik dan kelembagaan program, UB menggelar Focus Group Discussion (FGD) secara daring bersama Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Provinsi Jawa Timur.

Kepala Dinas Kominfo Jatim, Sherlita Ratna Dewi Agustin, yang hadir sebagai narasumber, menegaskan bahwa Program Doktoral Ilmu Komunikasi merupakan inisiatif yang sangat penting. Diskominfo Jatim menyatakan dukungan penuh terhadap gagasan tersebut dan berharap program yang telah dicetuskan dapat diperkuat secara kolaboratif agar segera diresmikan.

Dalam paparannya, Sherlita menyampaikan sejumlah masukan yang perlu dikaji lebih lanjut dalam pendirian Program Doktoral Ilmu Komunikasi. Bidang kajian tersebut meliputi Jurnalisme, Studi Media, dan Komunikasi Digital, yang mencakup transformasi jurnalisme dan ekosistem media, media digital, platform dan algoritma, serta wacana publik, etika, dan regulasi.

Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya pengembangan kajian Komunikasi Publik serta Komunikasi Strategis/Korporasi, yang meliputi komunikasi pemerintahan dan kebijakan publik, public relations strategis dan manajemen krisis, serta reputasi, kepercayaan, dan komunikasi organisasi. Bidang lainnya yang tak kalah penting adalah Komunikasi dan Perubahan Sosial-Kultural, yang mencakup komunikasi sosial dan pembangunan, budaya, identitas dan media, serta teknologi komunikasi dan dinamika sosial.

Sherlita juga menegaskan bahwa Program Studi Ilmu Komunikasi UB yang akan dibentuk perlu memiliki ciri khas yang kuat, khususnya pada Government Communication, Public Policy Communication, Crisis and Risk Communication, serta pemanfaatan Data dan Artificial Intelligence (AI) untuk komunikasi publik.

FGD ini juga menekankan pentingnya fokus riset yang berbasis pada persoalan nyata di pemerintahan, seperti hoaks kebijakan, krisis komunikasi publik, kepercayaan publik, serta literasi digital dan algoritma. Adapun outcome lulusan yang dibutuhkan negara antara lain Analis Komunikasi Kebijakan, Perancang Strategi Komunikasi Publik, serta Pengembang Komunikasi Krisis Pemerintah.

Ketua Tim Pendirian Program Studi Doktoral Ilmu Komunikasi UB, Rahmat Kriyantono, menyampaikan bahwa dalam waktu dekat program studi tersebut akan mulai beroperasi dan menerima mahasiswa baru pada semester ganjil. Untuk mendukung proses pembelajaran, UB berupaya mengonstruksi kurikulum yang disusun berdasarkan situasi dan kondisi nyata di lapangan agar benar-benar aplikatif.

UB, lanjutnya, memiliki banyak pemangku kepentingan, baik dari kalangan akademisi, industri, maupun pemerintahan. Oleh karena itu, dalam FGD ini UB mengundang Diskominfo Jatim sebagai salah satu mitra strategis untuk berbagi pandangan mengenai desain kurikulum yang relevan serta memberikan solusi atas berbagai potensi kendala dalam pelaksanaannya.

“Apa yang disampaikan bu Sherita tadi ini sangat menarik. Dan ini akan menjadi masukan bagi Prodi Doktoral Ilkom dimana output yang dihasilkan adalah pada level menghasilkan seperti tawaran kebijakan, model, strategi bahkan pengembangan teori baru,” ujarnya, melalui laman resmi Kominfo Jatim, dilansir Selasa (27/1/2026).

Bersama Kominfo Jatim, Universitas Brawijaya membahas dan berbagi proses pendirian Program Studi S3 Ilmu Komunikasi. 

Bagikan artikel ini

Komentar ()

Video Terkait