Lindungi Anak di Dunia Digital, Ini Pesan Arumi Bachsin
- Yohanes Vandy Indra Prasetya, S.I.Kom
- •
- 7 jam yang lalu
Kegiatan “Bijak Digital, Anak Terlindungi”
Kominfo Jatim – Ketua Tim Penggerak PKK Jawa Timur, Arumi Bachsin Emil Dardak, menegaskan bahwa keluarga merupakan benteng utama dalam melindungi anak dari berbagai risiko di ruang digital yang semakin berkembang. Karena itu, orang tua perlu aktif mendampingi serta membekali anak dengan literasi digital agar dapat tumbuh dan berkembang secara aman di era teknologi.
Hal tersebut disampaikan Arumi saat menjadi keynote speaker dalam kegiatan “Bijak Digital, Anak Terlindungi” yang diselenggarakan PP Tunas di Surabaya. Kegiatan yang mengangkat tema perlindungan anak di era digital tersebut diikuti ratusan peserta dari berbagai organisasi perempuan, tenaga pendidik, serta pegiat perlindungan anak di Jawa Timur. Turut hadir sebagai narasumber Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Jawa Timur, Sherlita Ratna Dewi Agustin.
Dalam sambutannya, Arumi menyampaikan bahwa perkembangan teknologi digital yang sangat cepat menghadirkan tantangan baru bagi keluarga, terutama dalam upaya melindungi anak-anak dari berbagai dampak negatif penggunaan teknologi dan internet.
“Perkembangan teknologi saat ini luar biasa cepat. Kadang-kadang lebih cepat dibandingkan perkembangan aturan maupun kemampuan kita sebagai orang tua untuk mengikutinya. Karena itu, peran keluarga menjadi sangat penting dalam mendampingi anak-anak,” ujarnya.
Menurut Arumi, anak-anak saat ini merupakan generasi yang lahir dan tumbuh di era digital sehingga memiliki kemampuan beradaptasi dengan teknologi yang sangat cepat. Kondisi tersebut menuntut orang tua untuk terus meningkatkan pemahaman agar mampu memberikan pendampingan yang tepat.
Ia juga memaparkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024 yang menunjukkan tingginya penggunaan perangkat digital pada anak usia dini. Sebanyak 39,71 persen anak usia dini telah menggunakan telepon seluler dan 35,57 persen telah mengakses internet.
“Data ini menjadi alarm bagi kita semua bahwa paparan teknologi terhadap anak terjadi semakin dini. Karena itu, pengawasan dan pendampingan orang tua menjadi sangat penting,” ungkapnya.
Arumi turut menyoroti hasil penelitian Universitas Negeri Surabaya (Unesa) tahun 2024 yang menunjukkan rata-rata siswa SMP menghabiskan waktu sekitar 5,9 jam per hari di depan layar. Sebagian besar penggunaan perangkat digital dimanfaatkan untuk media sosial dan bermain gim, sementara hanya sebagian kecil yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran.
Menurutnya, penggunaan gadget secara berlebihan dapat berdampak pada kesehatan fisik maupun mental anak, mulai dari gangguan tidur, berkurangnya aktivitas fisik, hingga menurunnya kemampuan berinteraksi sosial secara langsung.
“Anak-anak terlihat sibuk saat memegang gadget, tetapi secara emosional bisa merasa kesepian karena kurangnya interaksi sosial secara langsung. Padahal manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan komunikasi dan hubungan nyata dengan lingkungan sekitarnya,” jelasnya, melalui laman Kominfo Jatim, dilansir Selasa (9/6/2026).
Sementara itu, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Jawa Timur, Sherlita Ratna Dewi Agustin, menekankan bahwa literasi digital tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menggunakan perangkat teknologi, tetapi juga mencakup kemampuan berpikir kritis, menjaga keamanan diri, serta bertanggung jawab dalam berinteraksi di ruang digital.
“Literasi digital bukan sekadar mampu menggunakan gawai, tetapi kemampuan berpikir kritis, menjaga diri, menghormati orang lain, dan bijak dalam setiap jejak digital. Kita tidak membatasi anak dari teknologi, tetapi membekali mereka agar mampu menggunakan teknologi secara aman, cerdas, produktif, dan bertanggung jawab,” tegasnya.
Arumi juga mengingatkan berbagai risiko yang mengintai anak-anak di ruang digital, mulai dari perundungan siber, paparan konten negatif, hingga penipuan daring. Karena itu, ia mengajak para orang tua untuk membangun komunikasi yang terbuka dengan anak, menetapkan batasan penggunaan gadget, serta menjadi teladan dalam penggunaan teknologi yang sehat dan bertanggung jawab.
Menutup sambutannya, Arumi mengajak seluruh elemen masyarakat, mulai dari keluarga, sekolah, komunitas, hingga pemerintah untuk bersama-sama menciptakan ruang digital yang aman, sehat, dan ramah anak.
“Teknologi harus memanusiakan manusia, bukan menukarkan masa kecil anak-anak kita. Mari bersama-sama melindungi anak-anak agar mereka dapat tumbuh dengan sehat, aman, dan bahagia di era digital,” pungkasnya.
