Gubernur Khofifah Dorong ASN Jadi Strategic Leader Adaptif


Pelatihan Kepemimpinan Nasional Tingkat II Angkatan XI Tahun 2026

Pelatihan Kepemimpinan Nasional Tingkat II Angkatan XI Tahun 2026

Kominfo Jatim - Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mendorong aparatur sipil negara (ASN) menjadi strategic leader yang adaptif, tangguh, dan mampu menghadirkan solusi di tengah dinamika global yang semakin kompleks.

Hal tersebut disampaikan saat membuka Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat II Angkatan XI Tahun 2026 yang dirangkai dengan penutupan Pelatihan Dasar (Latsar) CPNS Golongan III Angkatan 59, 60, dan 61 di Kantor Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Provinsi Jawa Timur, Balongsari, Tandes, Surabaya. PKN II Angkatan XI diikuti 52 peserta, sedangkan Latsar CPNS diikuti 127 peserta.

Dalam arahannya, Khofifah menegaskan bahwa ASN saat ini tidak cukup hanya menjalankan fungsi administratif, tetapi juga harus mampu menjadi pemimpin strategis sekaligus game changer dalam birokrasi.

“Saya berharap melalui kegiatan ini bisa menjadi ruang lahirnya strategic leader yang adaptif mampu menghadirkan inovasi, proyek perubahan, dan tata kelola pemerintahan yang berdampak nyata bagi masyarakat,” kata Gubernur Khofifah, melalui laman Kominfo Jatim, dilansir Rabu (20/5/2026).

Menurutnya, kepemimpinan adaptif ditandai dengan kemampuan berpikir out of the box, menjadi katalisator inovasi, serta tangguh menghadapi berbagai tantangan. Selain itu, setiap kebijakan juga harus memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

“Adaptif itu bagaimana kita hari ini bisa merencanakan besok dengan belajar dari pengalaman masa lalu,” ucapnya.

Khofifah meminta seluruh peserta PKN II maupun Latsar CPNS untuk terus belajar dan mampu menyesuaikan diri terhadap perubahan. Ia menilai semangat belajar dan keterbukaan berpikir menjadi modal utama ASN menghadapi dinamika zaman.

“Ayo belajar, belajar, belajar, we have to improve, bahwa setiap tantangan itu pasti ada peluang, gunakan analisis SWOT, strengths, weaknesses, opportunities, dan threats,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa perubahan merupakan keniscayaan yang harus direspons dengan kesiapan dan kemauan untuk terus berkembang.

“Kehidupan itu terus berubah, perubahan itu sunatullah, perubahan itu keniscayaan, dan yang tidak berubah itu perubahan itu sendiri,” terangnya.

Dalam kesempatan tersebut, Khofifah menilai tema Kepemimpinan Adaptif dalam Penguatan Tata Kelola Ketahanan Pangan untuk Mewujudkan Kemandirian, Resiliensi, dan Daya Saing Pangan Daerah sangat relevan dengan kondisi global saat ini.

Menurutnya, dunia tengah menghadapi perubahan cepat mulai dari ketegangan geopolitik, perang dagang, perubahan iklim, krisis energi, disrupsi teknologi dan artificial intelligence, hingga ancaman krisis pangan global. Karena itu, ASN dituntut semakin adaptif dan responsif.

“Bangun kepemimpinan yang melayani, bangun birokrasi yang kolaboratif dan hadirkan solusi yang menjawab kebutuhan rakyat,” pintanya.

“Birokrasi tidak boleh berjalan dengan pola lama. Pemerintahan harus mampu bergerak lebih adaptif, responsif, dan berbasis inovasi,” katanya.

Khofifah juga menyampaikan bahwa di tengah berbagai tantangan global, Jawa Timur tetap mencatatkan capaian ekonomi yang positif. Pada Triwulan I Tahun 2026, ekonomi Jawa Timur tumbuh sebesar 5,96 persen (year on year), tertinggi di Pulau Jawa dan melampaui rata-rata nasional.

Selain itu, Jawa Timur juga berhasil menjaga stabilitas inflasi dan mempertahankan posisi sebagai provinsi dengan produksi padi dan beras tertinggi nasional pada tahun 2025, dengan produksi padi mencapai 10,57 juta ton GKG dan produksi beras sekitar 6,1 juta ton.

“Prestasi ini tentu juga hasil dari bagaimana kita adaptif tidak hanya terhadap teknologi tetapi juga terhadap perubahan iklim dan kebutuhan untuk menjawab tantangan hari ini,” tegasnya.

Khofifah turut mengingatkan pentingnya kerja kolaboratif dalam birokrasi dan meminta ASN tidak merasa paling unggul dalam bekerja.

“Jangan pernah merasa paling smart, paling berprestasi, paling menguasai, tidak ada sukses hasil dari kerja sendiri,” imbuhnya.

Untuk menjaga ketahanan pangan, Pemprov Jatim terus melakukan berbagai langkah mitigasi, mulai dari pemetaan wilayah rawan kekeringan, percepatan masa tanam, optimalisasi sumber air, pompanisasi, rehabilitasi jaringan irigasi hingga Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

“Semua langkah ini dilakukan agar produktivitas pertanian tetap terjaga, risiko gagal panen dapat diminimalkan, dan ketahanan pangan masyarakat tetap terjaga,” katanya.

Selain itu, Jawa Timur juga terus memperkuat ekosistem logistik dan perdagangan melalui pengembangan JATIM HUB serta Instalasi Karantina Terpadu.

“Ini menjadi bagian penting dalam membangun Jawa Timur yang semakin tangguh, resilien, dan berdaya saing di tingkat nasional maupun global,” tegasnya.

Di akhir sambutannya, Khofifah menyampaikan apresiasi kepada Lembaga Administrasi Negara (LAN) RI atas dukungan pengembangan kompetensi ASN yang adaptif dan relevan dengan tantangan birokrasi saat ini.

“Jadilah ASN yang profesional, loyal, disiplin, serta memiliki semangat belajar yang tinggi untuk mewujudkan Jawa Timur yang mandiri, resilien, berdaya saing, dan semakin kokoh sebagai Gerbang Baru Nusantara,” pesannya.

Sementara itu, Kepala LAN RI Muhammad Taufiq menegaskan bahwa ASN harus terus belajar agar mampu mengikuti bahkan menjadi pengarah perubahan birokrasi.

“Adaptif ini kata kuncinya adalah belajar, dan belajar ini menjadi kunci untuk memastikan bahwa birokrasi selalu catch up, selalu bisa menyesuaikan dengan perubahan atau bahkan menjadi trend setter,” katanya.

Ia juga mengapresiasi komitmen Gubernur Khofifah dalam pengembangan kompetensi ASN di Jawa Timur.

“Saya terima kasih sekali kepada ibu gubernur bagaimana komitmen dengan program-program kompetensi ASN sehingga BPSDM Jawa Timur ini prestasinya menjadi BPSDM terbaik di Indonesia,” ucapnya.

Bagikan artikel ini

Komentar ()

Video Terkait