Harga Telur Anjlok, Pemprov Jatim Siapkan Perda Lindungi Peternak
- Yohanes Vandy Indra Prasetya, S.I.Kom
- •
- 15 jam yang lalu
Aksi Damai Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Peternak Ayam Petelur di Depan DPRD Jawa Timur
Kominfo Jatim – Pemerintah Provinsi Jawa Timur bergerak cepat merespons aspirasi para peternak ayam petelur yang menggelar aksi damai di depan DPRD Jawa Timur terkait anjloknya harga telur di tingkat produsen. Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, memastikan berbagai langkah jangka pendek, menengah, dan panjang segera disiapkan untuk melindungi keberlangsungan usaha peternak.
Emil mengatakan dirinya bersama Komisi B DPRD Jawa Timur sengaja meninggalkan agenda Rapat Paripurna penyampaian pandangan umum fraksi terhadap pelaksanaan APBD Tahun 2025 guna menemui langsung para peternak dan mendengarkan aspirasi mereka.
"Kami mendengarkan langsung aspirasi teman-teman peternak petelur. Ada beberapa langkah konkret yang harus segera dilakukan agar para peternak tidak terus menjual telur di bawah harga pokok produksi," ujarnya, melalui laman Kominfo Jatim, dilansir Selasa (30/6/2026).
Salah satu tuntutan peternak adalah implementasi Surat Kepala Badan Pangan Nasional tertanggal 9 Juni 2026 yang menetapkan Harga Acuan Pembelian (HAP) telur di tingkat produsen sebesar Rp26.000 per kilogram dan Harga Acuan Konsumen (HAK) sebesar Rp30.000 per kilogram.
Namun, menurut para peternak, hingga saat ini implementasi kebijakan tersebut belum berjalan optimal. Mereka menilai belum ada langkah nyata dari Satgas Pangan di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota sehingga disparitas harga antara tingkat produsen dan konsumen masih cukup tinggi.
Menanggapi hal tersebut, Emil mengapresiasi kehadiran Polda Jawa Timur dalam menerima aspirasi peternak. Menurutnya, Satgas Pangan akan mengawal implementasi harga acuan agar dapat berjalan lebih efektif.
"Kami berterima kasih kepada Polda Jatim yang hari ini hadir langsung menerima aspirasi dan segera mengambil langkah. Satgas Pangan akan mengawal implementasi harga acuan tersebut," katanya.
Sebagai langkah jangka pendek, Pemprov Jawa Timur bersama Satgas Pangan akan mengumpulkan para pedagang perantara (middleman) dalam waktu kurang dari satu pekan untuk membahas formulasi harga yang adil bagi peternak sekaligus tetap realistis terhadap kondisi pasar.
Emil mengakui masih terdapat kesenjangan antara harga acuan pemerintah dengan harga telur di lapangan. Berdasarkan data Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Harga Bahan Pokok (Siskaperbapo), harga telur ayam ras di sejumlah daerah Jawa Timur saat ini masih berada pada kisaran Rp25.000 hingga Rp26.000 per kilogram.
"Harga telur ayam ras di pasar hari ini sekitar Rp25.000 per kilogram. Artinya, ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Jangan hanya bicara teori, tetapi harus melihat realita di lapangan. Kalau peternak tidak mau rugi, maka kita harus mencari formulasi harga yang bisa diterima semua pihak," jelasnya.
Selain itu, Pemprov Jawa Timur bersama Direktorat Siber Polda Jawa Timur juga akan menindak akun media sosial yang diduga menyebarkan informasi menyesatkan dan memicu psikologi pasar sehingga berdampak pada penurunan harga telur di tingkat peternak.
"Isu-isu yang berkembang di media sosial dan membuat kepanikan pasar juga akan ditertibkan. Jangan sampai ada informasi yang menyesatkan dan merugikan peternak," tegas Emil.
Untuk jangka menengah, Pemprov Jawa Timur akan membentuk kelompok kerja perlindungan peternak yang bertugas merumuskan kebijakan lebih komprehensif, termasuk terkait biaya produksi dan harga pakan. Sementara sebagai solusi jangka panjang, pemerintah daerah akan menyiapkan Peraturan Daerah (Perda) tentang Perlindungan Peternak di Jawa Timur.
Sementara itu, Koordinator Peternak Telur Blitar, Yessi Yuni, mengatakan tingginya harga jagung sebagai bahan baku pakan turut memperberat beban peternak. Saat ini harga jagung di lapangan telah mencapai kisaran Rp6.000 hingga Rp7.000 per kilogram.
"Lebih dari 50 persen biaya produksi peternak berasal dari pakan, terutama jagung. Karena itu, persoalan harga telur tidak bisa dilepaskan dari stabilitas harga pakan," ujarnya.
Ia berharap harga acuan pembelian telur berada pada kisaran Rp24.500 hingga Rp26.500 per kilogram sehingga terdapat margin yang memadai untuk menutup biaya produksi dan pemeliharaan.
"Harga pembelian telur di tingkat peternak saat ini hanya sekitar Rp16.000 sampai Rp17.000 per kilogram. Kami berharap ada solusi yang menguntungkan semua pihak, sehingga peternak tidak merugi dan harga tetap terjangkau bagi masyarakat," pungkasnya.
