Hadapi Tekanan Fiskal, Jatim Retreat 2026 Fokus Value for Money


Jawa Timur Retreat 2026

Jawa Timur Retreat 2026

Kominfo Jatim – Pemerintah Provinsi Jawa Timur melaksanakan Jatim Retreat 2026 bertema Creative Financing & Value for Money sebagai momentum evaluasi capaian anggaran 2025 sekaligus penyiapan strategi menghadapi tekanan fiskal pada 2026.

Kegiatan yang dihadiri seluruh kepala organisasi perangkat daerah (OPD) ini juga diikuti Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Wakil Gubernur Emil Elestianto Dardak, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur Adhy Karyono, serta jajaran BUMD. Acara diselenggarakan oleh BPSDM Provinsi Jawa Timur di Surabaya.

Gubernur Khofifah menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang menggagas pelaksanaan Jatim Retreat 2026. Kegiatan ini diikuti oleh 135 peserta yang berasal dari unsur birokrasi, BUMD, RSUD, hingga penyelenggara layanan publik di Jawa Timur.

“Birokrasi harus bergerak menciptakan nilai dan dampak nyata bagi masyarakat, bukan sekadar menghabiskan anggaran. Ini hanya akan terjadi jika kita mampu memberi teladan serta kontrol hingga ke UPT-UPT agar pelaksanaan kebijakan benar-benar efektif,” pungkasnya.

Sementara itu, Sekdaprov Jatim Adhy Karyono menjelaskan bahwa secara kinerja, realisasi program dan anggaran tahun 2025 tergolong positif. Pendapatan daerah Jawa Timur tercatat mencapai 104 persen, sedangkan realisasi belanja berada di angka 92,6 persen.

“Di awal tahun ini kita melakukan review terhadap apa yang sudah kita lakukan. Pertama, memang kita sudah sangat perform untuk pelaksanaan program dan anggaran tahun 2025,” kata Adhy ditemui usai acara.

Namun demikian, Adhy mengungkapkan bahwa Pemprov Jatim akan menghadapi tantangan yang cukup berat pada 2026 seiring perubahan kebijakan fiskal nasional. Salah satunya adalah dampak penerapan Undang-Undang Hubungan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah (HKPD) yang mengubah skema bagi hasil pajak kendaraan bermotor sehingga porsi pendapatan provinsi berkurang.

Selain itu, kebijakan pengurangan dana transfer ke daerah turut memberi dampak signifikan. Adhy menyebutkan, pemotongan Transfer ke Daerah (TKD) mencapai sekitar Rp2,8 triliun. “Kondisi ini membuat kita tetap harus melaksanakan program prioritas dengan baik tetapi juga harus tetap penyesuaian, tapi itu tidak cukup membiayai semua itu,” ujarnya, melalui laman resmi Kominfo Jatim, dilansir Senin (19/1/2026).

Menghadapi kondisi tersebut, Pemprov Jatim mulai mendorong perubahan pola pikir menuju penerapan creative financing dan value for money. Strategi ini diarahkan untuk menggali potensi pendapatan baru di luar sumber-sumber konvensional.

Adhy menjelaskan, optimalisasi pendapatan akan dilakukan melalui intensifikasi dan ekstensifikasi pajak berbasis digital. Selain itu, Pemprov Jatim juga menyoroti potensi pemanfaatan aset daerah yang nilainya mencapai sekitar Rp61 triliun, namun dinilai belum produktif secara optimal.

“Aset kita sangat besar 61 triliun, tetapi tingkat pengembaliannya hanya satu koma atau nol koma malah. Jadi ini kan masih punya banyak peluang untuk bisa mendayagunakan aset untuk dikerjasamakan dengan pihak ketiga, baik sewa, kerja sama, pemanfaatan dan sebagainya,” katanya.

Sumber pendapatan lain yang menjadi perhatian adalah badan usaha milik daerah (BUMD). Menurut Adhy, Pemprov Jatim akan mendorong peningkatan produktivitas BUMD agar kontribusinya terhadap pendapatan daerah semakin optimal.

“Kita bedah semua ke depan harus seperti apa, untuk beberapa BUMD di luar Bank Jatim, kita melakukan revitalisasi dari yang dilakukan oleh BUMD, baik tata kelola, proses bisnis maupun dari sisi manajemen, kita hitung kembali. Hari ini kita menyampaikan apa evaluasinya dan harus bagaimana,” ujarnya.

Ia menambahkan, ke depan setiap BUMD akan didorong untuk menyusun desain inovasi yang mampu menghasilkan skema pembiayaan kreatif sekaligus meningkatkan profitabilitas. Dari sisi belanja, Pemprov Jatim juga menekankan prinsip kehati-hatian agar program tetap berjalan dengan biaya pendukung yang lebih efisien.

“Kami merubah mindset bahwa kita bukan hanya menghabiskan anggaran tetapi juga sedikit banyaknya bisa sebagai penghasil,” pungkas Adhy.

Bagikan artikel ini

Komentar ()

Video Terkait