Bijak Bermedsos, Wujudkan Nilai Pancasila di Ruang Digital
- Yohanes Vandy Indra Prasetya, S.I.Kom
- •
- 14 jam yang lalu
Dialog Pancasila di Ruang Digital, Ajak Rawat Persatuan dan Cegah Hoax
Kominfo Jatim – Nilai-nilai Pancasila dinilai tetap relevan sebagai pedoman dalam menjaga persatuan bangsa di tengah derasnya arus informasi dan tingginya aktivitas masyarakat di media sosial. Hal tersebut mengemuka dalam Dialog Khusus bertajuk “Pancasila di Ruang Digital: Merawat Persatuan di Era Media Sosial” yang disiarkan dari Studio JTV Surabaya.
Dialog yang digelar dalam rangka memperingati Hari Lahir Pancasila tersebut mengusung tema “Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia”. Kegiatan menghadirkan Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Timur, Sherlita Ratna Dewi Agustin, Ketua STIKOSA-AWS Surabaya, Dr. Jokhanan Kristiyono, serta Bendahara Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) Surabaya, Dyah Larasati.
Para narasumber sepakat bahwa penguatan literasi digital, etika bermedia sosial, dan penerapan nilai-nilai Pancasila menjadi kunci penting dalam menjaga persatuan bangsa di tengah dinamika ruang digital yang terus berkembang.
Kepala Dinas Kominfo Jatim, Sherlita Ratna Dewi Agustin, menegaskan bahwa setiap pengguna media sosial memiliki tanggung jawab untuk memastikan informasi yang diterima maupun dibagikan telah melalui proses verifikasi.
“Mari masyarakat Jawa Timur bersama-sama menjaga ruang digital yang sehat, produktif, dan damai. Sebelum percaya, cek dulu. Sebelum berkomentar, pahami dulu. Sebelum membagikan, verifikasi dulu,” ujarnya, melalui laman Kominfo Jatim, dilansir Rabu (3/6/2026).
Menurut Sherlita, budaya cek fakta dan sikap bijak dalam bermedia sosial merupakan bentuk implementasi nilai-nilai Pancasila di era digital. Dengan demikian, ruang digital dapat menjadi sarana memperkuat persatuan, memperluas pengetahuan, sekaligus menciptakan masyarakat yang cerdas dan harmonis.
Sementara itu, Bendahara Mafindo Surabaya, Dyah Larasati, mengajak generasi muda untuk lebih kritis dalam menerima berbagai informasi yang beredar di internet. Ia menilai kemampuan membandingkan berbagai sumber informasi serta mengutamakan sumber yang kredibel menjadi langkah penting untuk menghindari penyebaran hoaks dan disinformasi.
“Saya mengajak generasi muda untuk memperbanyak referensi dan membandingkan berbagai sumber informasi sebelum mempercayai maupun menyebarkannya. Manfaatkan sumber informasi yang kredibel dan terverifikasi,” ujarnya.
Menurut Dyah, kebiasaan melakukan verifikasi informasi perlu terus ditanamkan, terutama kepada generasi muda yang saat ini menjadi kelompok pengguna internet terbesar di Indonesia.
Di sisi lain, Ketua STIKOSA-AWS Surabaya, Dr. Jokhanan Kristiyono, menegaskan bahwa identitas masyarakat Indonesia yang berlandaskan Pancasila harus tercermin dalam perilaku bermedia sosial. Ruang digital, menurutnya, harus menjadi ruang yang mencerminkan karakter bangsa yang santun, beradab, dan menghargai sesama.
“Identitas masyarakat Indonesia yang berlandaskan Pancasila harus tercermin pula di ruang digital. Ruang digital harus mencerminkan karakter yang beradab, menghargai sesama, dan membawa manfaat bagi lingkungan sekitar,” katanya.
Ia menambahkan, media sosial perlu dimanfaatkan sebagai sarana membangun pengetahuan, memperkuat persatuan, serta menyebarkan nilai-nilai positif yang mencerminkan jati diri bangsa Indonesia.
Melalui dialog tersebut, masyarakat diajak untuk menjadikan Pancasila sebagai pedoman dalam berinteraksi di ruang digital, sehingga media sosial tidak hanya menjadi sarana bertukar informasi, tetapi juga ruang untuk memperkuat persatuan, toleransi, dan semangat kebangsaan di tengah keberagaman.
