566 Santri Keracunan MBG, Pemprov Jatim Evaluasi Dapur SPPG


Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur, Adhy Karyono

Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur, Adhy Karyono

Kominfo Jatim - Pemerintah Provinsi Jawa Timur mengambil langkah tegas menyusul kembali terjadinya insiden keracunan yang menimpa santri dan siswa setelah mengonsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG). Pemprov Jatim akan mengumpulkan seluruh pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Jawa Timur untuk mengevaluasi penerapan standar operasional prosedur (SOP) pengolahan makanan.

Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur, Adhy Karyono, mengatakan insiden berulang tersebut menjadi perhatian serius pemerintah, khususnya karena menyangkut keselamatan peserta didik dan santri sebagai penerima manfaat program MBG.

"Sebagai pemerintah, ketika ini terjadi kesekian kalinya, tentu kami sangat prihatin. Walaupun pengawasan internal SLHS (Sertifikat Laik Higiene Sanitasi) sudah dilakukan, ternyata di luar kemampuan kami masih ada hal yang berakibat fatal," ujar Adhy Karyono saat dikonfirmasi usai mengikuti Rapat Paripurna DPRD Jatim, Rabu (2/9/2026).

Adhy menjelaskan, Tim Satuan Tugas (Satgas) MBG Jawa Timur yang dipimpin langsung oleh Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak bersama tim ahli telah melakukan rapat konsolidasi untuk mendalami insiden tersebut. Hasil pendalaman selanjutnya telah dilaporkan kepada Badan Gizi Nasional (BGN) untuk ditindaklanjuti.

Saat ini, proses penyidikan masih berlangsung guna memastikan faktor utama yang menyebabkan terjadinya keracunan. Pemprov Jatim, kata Adhy, juga akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pengelolaan dapur penyedia makanan MBG.

"Langkah pertama setelah konsolidasi adalah memanggil seluruh pengelola dapur SPPG. Kita ingin memastikan kembali apakah aturan dan SOP pengolahan masakan sudah ditaati penuh atau belum," tegasnya.

Selain penindakan setelah insiden terjadi, Pemprov Jatim akan memperkuat langkah pencegahan dengan meningkatkan pengawasan terhadap kondisi dapur SPPG. Pemeriksaan secara berkala dinilai penting untuk memastikan proses pengolahan makanan memenuhi ketentuan dan standar higiene sanitasi yang berlaku.

Langkah tersebut dilakukan agar pengawasan tidak semata-mata berorientasi pada pemberian sanksi (punishment) setelah terjadi persoalan, tetapi juga mampu mencegah potensi kejadian serupa di kemudian hari.

Sebagaimana diketahui, insiden keracunan menu MBG terbaru terjadi di Ponpes Mambaul Hikam, Tanggulangin, Sidoarjo. Sebanyak 566 santri dan siswa dari sejumlah lembaga pendidikan di sekitar Tanggulangin dilaporkan mengalami mual, muntah, dan pusing setelah mengonsumsi makanan yang berasal dari SPPG Kalitengah, Sidoarjo.

Para santri dan siswa yang mengalami keluhan kemudian dilarikan ke sejumlah rumah sakit dan fasilitas kesehatan di wilayah Sidoarjo untuk mendapatkan penanganan medis.

Bagikan artikel ini

Komentar ()

Video Terkait