Kominfo Jatim Dorong KIM Produksi Konten Kreatif untuk JPRA 2026
- Yohanes Vandy Indra Prasetya, S.I.Kom
- •
- 17 jam yang lalu
Webinar CERDIG (Cerdas Digital)
Kominfo Jatim – Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Provinsi Jawa Timur memperkuat kapasitas dan keterampilan Komunitas Informasi Masyarakat (KIM) dalam memproduksi konten kreatif melalui kegiatan CERDIG (Cerdas Digital) bertema “Produksi Konten Kreatif untuk Komunitas Informasi Masyarakat (KIM) Jawa Timur”, yang digelar secara daring melalui Zoom, Jumat (25/9/2026).
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya mendorong partisipasi KIM dalam Jatim Public Relations Award (JPRA) 2026. Ajang ini menjadi wadah bagi KIM untuk mengasah kreativitas sekaligus meningkatkan kualitas pengelolaan dan penyebarluasan informasi publik berbasis digital. Kepala Dinas Kominfo Jatim, Sherlita Ratna Dewi Agustin, mengatakan perkembangan internet dan media sosial membuka peluang bagi KIM untuk memperluas jangkauan penyebarluasan informasi hingga tingkat desa dan kelurahan. Terlebih, Jawa Timur memiliki jumlah KIM terbesar di Indonesia.
Menurut Sherlita, keberadaan KIM yang dekat dengan masyarakat menjadi modal penting dalam menyampaikan informasi pembangunan secara lebih efektif. Karena itu, KIM perlu terus meningkatkan kemampuan dalam mengemas informasi agar sesuai dengan perkembangan media digital. Sherlita berharap KIM dapat memanfaatkan JPRA 2026 sebagai kesempatan untuk belajar bersama, mengembangkan kemampuan, sekaligus berkontribusi dalam penyebarluasan informasi pembangunan.
“Saya berharap teman-teman KIM bisa ikut berpartisipasi dan kita menjadikan JPRA ini sebagai wadah untuk kita belajar bersama, dan ujungnya adalah membawa Jawa Timur lebih baik lagi ke depannya,” ujar Sherlita.
Ia menjelaskan, berdasarkan survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) 2026, TikTok menjadi media sosial yang paling sering diakses masyarakat Indonesia dengan porsi 31,8 persen, disusul Facebook 29,4 persen dan Instagram 27,7 persen. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi peluang bagi KIM untuk mengemas informasi secara kreatif, menarik, dan sesuai dengan karakter platform serta audiens yang dituju.
“KIM adalah suara yang paling dekat dengan masyarakat. KIM mengenal bahasa warganya, memahami persoalan di lingkungannya, dan dipercaya oleh tetangganya. Jika kedekatan itu dipadukan dengan kemampuan mengemas konten secara kreatif, KIM akan menjadi garda terdepan dalam menyebarkan informasi pembangunan, meningkatkan literasi digital, dan menangkal hoaks,” tambahnya.
Sherlita juga mengapresiasi KIM yang telah mengembangkan konten informatif dan dekat dengan masyarakat. Berdasarkan data Kementerian Komunikasi dan Digital, KIM Jawa Timur menghasilkan sekitar 15.000 berita melalui website KIM ID sepanjang Januari hingga Agustus 2026, terbanyak secara nasional. Sementara itu, Ketua Tim Kerja Kemitraan Lembaga Dinas Kominfo Jatim, Eko Setiawan, menjelaskan JPRA 2026 memberikan ruang kompetisi khusus bagi KIM. Dengan demikian, KIM akan berkompetisi dengan sesama KIM dan tidak digabungkan dengan peserta dari perangkat daerah maupun Dinas Kominfo kabupaten/kota.
“Jadi KIM ini nanti berkompetisi dengan KIM, tidak dengan Perangkat Daerah atau Kominfo Kabupaten/Kota. Ini memang kita buat khusus untuk KIM,” ujar Eko.
Ia menyampaikan, kategori yang dapat diikuti KIM meliputi media sosial, konten video kreatif, dan media audiovisual. Setiap kategori memiliki ketentuan teknis dan persyaratan berbeda. Adapun aspek penilaian mencakup kualitas teknis, kreativitas, konsistensi, interaksi, dampak kepada masyarakat, serta kekuatan pesan yang disampaikan. Dalam kegiatan tersebut, Founder Good News From Indonesia, Akhyari Hananto, turut membagikan pengalaman dalam mengelola media sosial dan memproduksi konten kreatif. Ia menekankan bahwa keberhasilan sebuah konten tidak hanya ditentukan oleh jumlah pengikut, tetapi juga sejauh mana konten tersebut mampu menjangkau, ditonton, dan membangun interaksi dengan audiens.
“Konten yang baik itu yang dibagikan banyak orang, yang menjangkau banyak orang, yang ditonton banyak kali, dan yang membangun interaksi,” ujarnya.
Akhyari juga menekankan pentingnya konsistensi, perencanaan, dan pembagian tugas dalam pengelolaan media sosial. Selain itu, KIM perlu memperhatikan pemilihan topik, desain visual, branding, algoritma, serta relevansi konten dengan karakter masyarakat setempat. Ia mendorong KIM memanfaatkan strategi micro content dengan mengemas satu topik secara lebih spesifik agar informasi lebih mudah dipahami masyarakat. Pemanfaatan kecerdasan buatan (AI), lanjutnya, juga dapat menjadi alat bantu dalam mencari ide dan menyusun judul konten. Dengan strategi tersebut, KIM diharapkan mampu menghasilkan konten yang lebih relevan, menarik, dan memiliki jangkauan lebih luas, tanpa meninggalkan kedekatannya dengan kebutuhan masyarakat di masing-masing wilayah.
