Kadis Sherlita Paparkan Inovasi Digital Perisai Anak di LAN RI
- Yohanes Vandy Indra Prasetya, S.I.Kom
- •
- 8 jam yang lalu
Seminar Implementasi Proyek Perubahan di ASN Corporate University, LAN RI, Jakarta Pusat
Kominfo Jatim - Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Timur, Sherlita Ratna Dewi Agustin, memaparkan inovasi Perisai Anak dalam Seminar Implementasi Proyek Perubahan di ASN Corporate University, LAN RI, Jakarta Pusat.
Perisai Anak merupakan ekosistem pelindungan anak di ruang digital yang diinisiasi Pemerintah Provinsi Jawa Timur dengan jargon “Tumbuh Aman di Ruang Digital”.
Dalam paparannya, Sherlita menjelaskan bahwa implementasi Perisai Anak telah melibatkan 39 stakeholder, meningkat dari sebelumnya 26 stakeholder. Selama dua bulan pelaksanaan, tercatat 21 kegiatan jangka pendek dan empat kegiatan jangka menengah yang telah dilaksanakan, mencakup edukasi, kampanye publik, koordinasi, pengembangan layanan hingga uji coba layanan digital. Program tersebut juga telah menjangkau 460 anak melalui komunikasi dengan anak dan orang tua sebagai bagian dari upaya memperkuat pemahaman dan kesadaran mengenai keamanan anak di ruang digital.
Dari sisi keberlanjutan, Perisai Anak diarahkan untuk masuk dalam Draft Rencana Aksi Daerah Penyelenggaraan Pelindungan Perempuan dan Anak (RAD PPA) Jawa Timur 2026–2030, dengan target integrasi di 38 kabupaten/kota pada 2030. Program tersebut mencakup penguatan Cerdas Digital, pengembangan dan diseminasi konten edukasi, serta pemanfaatan Perisai Anak di kabupaten/kota. Keberlanjutan program juga diarahkan melalui penguatan regulasi berupa Perda Jatim dan RaperGub Jatim tentang Penyelenggaraan PPA.
Implementasi Perisai Anak turut mendapat eksposur melalui 70 publikasi di 18 media nasional. Sementara dari aspek pengembangan kompetensi, sebanyak 20 anggota Tim Efektif yang terdiri dari perwakilan eselon 3, eselon 4 dan staf terlibat dalam pelaksanaan proyek dan memperoleh total 53 sertifikat pengembangan kompetensi.
Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur, Adhy Karyono, selaku mentor, menyampaikan bahwa pelindungan anak saat ini tidak cukup hanya mengandalkan undang-undang yang sudah ada. Menurutnya, pelindungan anak di ruang digital juga membutuhkan sistem keamanan siber yang kuat, mengingat anak menghadapi berbagai risiko seperti judi online, kecanduan game online hingga pornografi.
“Pelindungan anak tidak cukup hanya dengan undang-undang. Di ruang digital, kita membutuhkan sistem keamanan siber yang kuat,” ujar Sekda Adhy, melalui laman Kominfo Jatim, dilansir Kamis (3/9/2026).
Adhy menjelaskan, Pemprov Jatim mengambil inisiatif membangun ekosistem pelindungan anak melalui kolaborasi lintas sektor. Perisai Anak melibatkan Dinas Kominfo, perangkat daerah terkait, unsur perlindungan anak, UNICEF, serta institusi akademik seperti King's College dan Sydney Western University.
“Pemerintah Provinsi Jawa Timur mengambil inisiatif membangun ekosistem pemerintahan digital terkait pelindungan anak. Ini kita bangun melalui kolaborasi lintas OPD dan lintas sektor,” jelasnya.
Menurut Adhy, pengembangan Perisai Anak juga perlu didukung dengan dashboard atau aplikasi yang sederhana dan menarik agar mudah digunakan oleh anak maupun orang tua. Platform tersebut diharapkan dapat membantu mendeteksi risiko maupun kecanduan digital sejak dini.
Implementasi Perisai Anak selanjutnya diarahkan untuk terintegrasi dengan lingkungan sekolah melalui Dinas Pendidikan untuk jenjang SMA, SMK dan SLB, Kementerian Agama Jawa Timur untuk madrasah, serta didorong untuk diterapkan di kabupaten/kota pada jenjang SMP dan SD.
Sementara itu, Sestama LAN RI, Andi Taufik, selaku penguji, menyampaikan apresiasi terhadap inovasi Perisai Anak yang diinisiasi Kadis Sherlita. Ia menilai inovasi tersebut penting untuk dikembangkan lebih luas, tidak hanya di Jawa Timur, tetapi juga menjadi gerakan nasional.
“Perisai Anak ini sangat krusial. Jangan hanya berhenti di Jawa Timur, tetapi harus bisa dikampanyekan menjadi gerakan nasional,” tuturnya.
Andi juga menekankan pentingnya menjaga sentuhan kemanusiaan di tengah transformasi digital. Menurutnya, perkembangan teknologi perlu tetap diimbangi dengan komunikasi langsung dan hubungan personal, khususnya antara orang tua dan anak.
“Walaupun birokrasi sedang bertransformasi menuju otomatisasi digital, sentuhan kemanusiaan atau personal touch tidak boleh hilang,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan bahwa Perisai Anak memiliki peluang untuk direplikasi di kabupaten/kota dan dikembangkan hingga tingkat nasional maupun internasional.
“Perisai Anak memiliki potensi untuk direplikasi di kabupaten/kota dan memiliki peluang untuk diikutsertakan dalam penghargaan internasional seperti United Nations Public Service Awards,” ungkapnya.
Menutup paparannya, Sherlita menegaskan pentingnya memastikan kemajuan teknologi tetap diimbangi dengan upaya memberikan ruang digital yang aman bagi anak.
“Kita tidak bisa membendung teknologi, namun kita tidak bisa membiarkan anak-anak masuk belantara digital," pungkasnya.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Bappeda Provinsi Jawa Timur, Iwan, yang juga mengemban tugas sebagai Plt. Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur, turut memaparkan proyek perubahannya. Ia menghadirkan inovasi bertajuk Jatim Melesat, sebuah inovasi tata kelola perdagangan luar negeri yang dirancang untuk membangun ekosistem ekspor Jawa Timur yang terintegrasi, inovatif, dan berdaya saing global.
