WFH Dinilai Efektif Tekan Konsumsi BBM di Jawa Timur


Ketua Komisi D DPRD Jatim, Abdul Halim

Ketua Komisi D DPRD Jatim, Abdul Halim

Kominfo Jatim - Kebijakan Work From Home (WFH) yang ditetapkan pemerintah pusat maupun Pemerintah Provinsi Jawa Timur dinilai menjadi langkah strategis dalam menekan konsumsi bahan bakar minyak (BBM). Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Jawa Timur menyebut kebijakan tersebut tidak hanya berdampak pada efisiensi anggaran, tetapi juga menjadi momentum untuk membangun budaya hemat energi di tengah masyarakat.

Ketua Komisi D DPRD Jatim, Abdul Halim, mengatakan bahwa kebijakan WFH merupakan bagian dari keputusan nasional yang perlu diikuti oleh pemerintah daerah dalam rangka mendukung upaya penghematan energi.

“Kalau terkait penghematan penggunaan BBM, Saya yakin ada penghitungan besar terkait efisiensi yang bisa dicapai dari kebijakan ini,” ujarnya, melalui laman Kominfo Jatim, dilansir Selasa (7/4/2026). 

Menurutnya, penerapan WFH bagi aparatur sipil negara (ASN) dan layanan pemerintahan dapat mengurangi mobilitas harian secara signifikan. Hal ini berdampak langsung pada penurunan konsumsi BBM, sehingga memberikan efek efisiensi yang luas bagi pemerintah maupun masyarakat.

Namun demikian, Abdul Halim mengingatkan bahwa peralihan ke energi alternatif seperti listrik atau tenaga surya tidak dapat dilakukan secara instan dan memerlukan perhitungan yang matang.

“Kalau harus langsung beralih ke kendaraan listrik atau tenaga surya, itu juga harus dikalkulasi. Jangan sampai malah menambah beban karena harus membeli kendaraan baru,” jelasnya.

Ia juga menyoroti keterbatasan integrasi transportasi umum di Jawa Timur, khususnya layanan Trans Jatim yang belum menjangkau seluruh wilayah serta konektivitas antarmoda yang masih belum optimal.

“Koridor Trans Jatim memang sudah ada, tapi belum semua terhubung dengan feeder. Waktu dan koneksinya juga belum sepenuhnya sinkron. Ini yang masih harus kita koordinasikan,” tambahnya.

Politisi Partai Gerakan Indonesia Raya tersebut menilai kondisi geopolitik global harus dimanfaatkan sebagai momentum untuk mengubah pola pikir masyarakat dalam penggunaan energi, khususnya energi tidak terbarukan.

“Ini momentum untuk mengubah mindset dan perilaku. Penghematan energi harus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, terutama untuk energi yang tidak terbarukan,” tegasnya.

Selain itu, ia juga membuka peluang penerapan berbagai alternatif kebijakan, termasuk penggunaan sepeda bagi ASN seperti yang telah dilakukan di sejumlah daerah, sebagai langkah sederhana namun berdampak dalam menekan konsumsi energi.

Bagikan artikel ini

Komentar ()

Video Terkait