BI Ungkap Adaptasi Kunci Ekonomi Jatim Hadapi Global


BI Jatim Soroti Ketahanan Ekonomi di Tengah Dinamika Global

BI Jatim Soroti Ketahanan Ekonomi di Tengah Dinamika Global

Kominfo Jatim - Kemampuan adaptasi masyarakat menjadi kunci utama dalam menjaga ketahanan dan pertumbuhan ekonomi di tengah dinamika global. Hal ini mengemuka dalam kegiatan Jatim Talk Road to East Java Economic Forum (EJAVEC) 2026 yang mengangkat tema “Sinergi Penguatan Daya Saing Jawa Timur melalui Hilirisasi Komoditas Unggulan dan Iklim Investasi Berkelanjutan.”

Kegiatan ini merupakan bagian dari dukungan Bank Indonesia kepada Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui kolaborasi dengan kalangan akademisi, khususnya Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga. Forum ini menjadi ruang diskusi strategis untuk menghimpun gagasan dan solusi dalam memperkuat daya saing ekonomi daerah.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jawa Timur, Ibrahim, menyampaikan, meskipun kondisi ekonomi global saat ini penuh tantangan, Jawa Timur masih memiliki potensi besar yang dapat terus dikembangkan.

Menurutnya, pengalaman menghadapi krisis, termasuk pandemi, menunjukkan bahwa di tengah tekanan justru dapat lahir inovasi dan peluang baru. “Di tengah dinamika global yang sangat tinggi, selalu ada ruang untuk menggali potensi. Bahkan potensi sekecil apa pun bisa menjadi kekuatan jika dikelola dengan baik,” ujarnya.

Ia menjelaskan, struktur ekonomi Jawa Timur yang didominasi oleh konsumsi masyarakat—sekitar 60 persen dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)—menjadi salah satu penopang utama ketahanan ekonomi daerah. Karakter ini membuat ekonomi Jawa Timur lebih berbasis kekuatan internal sehingga relatif tahan terhadap gejolak eksternal.

“Ketika tekanan datang dari luar, daerah dengan struktur ekonomi yang bertumpu pada konsumsi domestik akan lebih resilient. Namun demikian, menjaga daya beli masyarakat tetap menjadi tugas utama,” tegasnya, melalui laman Kominfo Jatim, dilansir Selasa (7/4/2026).

Untuk menjaga stabilitas tersebut, sinergi lintas sektor terus diperkuat, termasuk melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), guna memastikan harga tetap terkendali dan konsumsi masyarakat terjaga.

Lebih lanjut, Ibrahim menekankan pentingnya kemampuan adaptasi dalam merespons risiko global, termasuk gangguan rantai pasok akibat konflik internasional.

“Ketika terjadi gangguan pasokan, negara-negara di dunia tidak tinggal diam. Mereka melakukan penyesuaian, mencari sumber alternatif, dan membangun jalur distribusi baru. Ini menunjukkan bahwa adaptasi adalah kunci untuk bertahan,” jelasnya.

Menurutnya, prinsip tersebut juga perlu diterapkan di tingkat daerah, baik oleh masyarakat maupun pelaku usaha, dengan terus menyesuaikan diri terhadap perubahan pasar, teknologi, dan kebijakan.

Sementara itu, Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia Cabang Surabaya Koordinator Jawa Timur, Soni Harsono, menyampaikan bahwa antusiasme terhadap forum EJAVEC terus meningkat setiap tahunnya.

“Setiap tahun, minat terhadap EJAVEC terus meningkat. Banyak pihak yang mengirimkan ide, kajian, dan pemikiran strategis. Ini menunjukkan bahwa forum ini semakin dipercaya sebagai wadah kontribusi pemikiran untuk pembangunan ekonomi Jawa Timur,” ujarnya.

Forum Jatim Talk yang menjadi bagian dari rangkaian EJAVEC juga dirangkaikan dengan publikasi laporan perekonomian Jawa Timur oleh Bank Indonesia. Publikasi ini diharapkan dapat menjadi rujukan bagi para pemangku kepentingan dalam memahami kondisi ekonomi terkini sekaligus sebagai dasar dalam merumuskan kebijakan.

Diskusi yang menghadirkan narasumber dari kementerian, Bappenas, akademisi, hingga pelaku industri dan perbankan tersebut menegaskan bahwa di tengah tantangan global, peluang tetap terbuka bagi daerah yang mampu beradaptasi dengan cepat.

Ke depan, sinergi antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha, dan masyarakat menjadi faktor kunci dalam memperkuat daya saing Jawa Timur, sehingga mampu tumbuh secara inklusif dan berkelanjutan di tengah ketidakpastian ekonomi global. 

Bagikan artikel ini

Komentar ()

Video Terkait