Batik Berlayar, Emil-Arumi Hadiri Puncak HBN 2026 di Monkasel
- Yohanes Vandy Indra Prasetya, S.I.Kom
- •
- 2 jam yang lalu
Puncak Peringatan Hari Batik Nasional 2026
Jatim Newsroom – Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak bersama Ketua Dekranasda Jatim Arumi Bachsin menghadiri puncak peringatan Hari Batik Nasional (HBN) 2026 bertema “Batik Berlayar” yang digelar Yayasan Batik Indonesia (YBI) di Monumen Kapal Selam (Monkasel), Surabaya, Jumat (2/10/2026) malam.
Dalam sambutannya yang mewakili Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Emil mengatakan, batik Indonesia telah mendapatkan pengakuan dunia sejak 2009 melalui inskripsi UNESCO sebagai Intangible Cultural Heritage of Humanity.
Menurutnya, pengakuan tersebut tidak hanya menjadi kebanggaan bagi bangsa Indonesia, tetapi juga membawa tanggung jawab untuk memastikan batik tetap hidup dan berkembang sebagai warisan budaya.
“Pengakuan tersebut menjadi kebanggaan sekaligus juga menjadi tanggung jawab kita semua. Karena warisan budaya tidak cukup hanya dikenal dan juga diakui, namun warisan budaya juga harus tetap dipraktikkan, dipelajari, dikembangkan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” katanya.
Emil menilai pelaksanaan puncak HBN 2026 menjadi momentum untuk menunjukkan bahwa batik merupakan karya budaya yang tumbuh dari berbagai daerah di Indonesia. Para perajin batik dari Sabang hingga Merauke dinilai memiliki kontribusi penting dalam menjaga keberagaman sekaligus keberlanjutan batik Indonesia.
"Semoga “Batik Berlayar” ini resonansi serta gaungnya akan terasa sampai waktu yang sangat panjang dan ke khalayak yang lebih luas. Dan batik akan terus menjadi kebanggaan bangsa dan negara Indonesia,” tuturnya.
Pemilihan Monumen Kapal Selam sebagai lokasi puncak HBN 2026, menurut Emil, memiliki makna tersendiri. Surabaya dan Jawa Timur dikenal memiliki keterkaitan kuat dengan dunia kemaritiman dan menjadi salah satu pusat pendidikan serta tradisi TNI Angkatan Laut.
Ia menyebut Monkasel menjadi simbol yang relevan dengan tema “Batik Berlayar”, sekaligus merepresentasikan Indonesia sebagai negara maritim.
Sementara itu, pemilihan batik Tulungagung dalam rangkaian kegiatan HBN 2026 dinilai Emil sebagai bentuk apresiasi terhadap kekayaan batik daerah. Menurutnya, keberagaman batik yang dimiliki berbagai kabupaten dan kota di Indonesia perlu terus digali, dilestarikan, dan dimuliakan sebagai bagian dari kekayaan budaya bangsa.
Ketua Bidang Usaha Baru Dekranas, Metty Herindra, mengatakan, batik harus terus beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan identitas dan nilai budaya yang melekat di dalamnya. Kreativitas dan inovasi dinilai menjadi bagian penting untuk memperluas jangkauan batik sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
Batik, lanjutnya, juga perlu terus diperkenalkan ke panggung dunia sebagai identitas sekaligus kebanggaan Indonesia.
Sementara itu, Ketua Umum Yayasan Batik Indonesia Gita Gilang Kencana menjelaskan, Surabaya dipilih sebagai lokasi perayaan HBN 2026 karena Jawa Timur memiliki kekayaan batik yang beragam, salah satunya batik Tulungagung.
Konsep “Batik Berlayar” diwujudkan dengan menghadirkan batik di ruang publik melalui perahu yang berlayar menyusuri Sungai Kalimas dari Taman Prestasi menuju Monkasel.
“Batik adalah budaya yang hidup. Batik tidak harus berada ditempat yang formal, namun bisa hadir diruang publik manapun sehingga semakin banyak orang yang merasa bahwa batik adalah bagian dari kehidupan sehari – hari,” katanya.
Puncak HBN 2026 turut dimeriahkan dengan berbagai pertunjukan seni dan budaya, di antaranya Tari Remo dan Reog Ponorogo. Rangkaian kegiatan juga diisi dengan pemukulan pungkalasa sebagai bagian dari selebrasi puncak HBN 2026 dan ditutup dengan penampilan Dewa 19.
Peringatan Hari Batik Nasional 2026 menjadi momentum untuk memperkuat komitmen dalam menjaga batik sebagai warisan budaya Indonesia. Melalui kreativitas, inovasi, serta keterlibatan berbagai pihak, batik diharapkan terus hidup, berkembang, dan memiliki masa depan yang kuat di tengah perubahan zaman.
